Cabai Rawit Tembus Rp63 Ribu, BPS Catat Kenaikan di 189 Kabupaten/Kota

Cabai Rawit Tembus Rp63 Ribu, BPS Catat Kenaikan di 189 Kabupaten/Kota

Badan Pusat Statistik (BPS) laporkan harga cabai rawit nasional tembus Rp63.000 per kg pada awal Februari 2026, naik 15-20% dalam seminggu dengan kenaikan terjadi di 189 kabupaten/kota akibat paceklik musim hujan dan distribusi terganggu banjir sentra produksi Jawa Tengah.

Lonjakan ini picu inflasi pangan 0,8% MoM, tekan daya beli rumah tangga kelas bawah yang alokasikan 25% anggaran ke bumbu dapur. Diskusi di Jawa11 ramai soroti kegagalan stabilisasi Bulog yang stok operasional minim, sementara petani rawit Boyolali-Banyumas rugi karena harga petik anjlok Rp15.000/kg saat panen raya sebelumnya.

Faktor Pemicu Lonjakan

Curah hujan ekstrem lumpuhkan panen 30% di sentra utama, ditambah biaya logistik naik 25% akibat banjir Jawa. PIHPS catat harga tertinggi Rp70.500/kg awal Januari, kini stabil Rp63.000 tapi tren naik berlanjut tanpa intervensi impor. Kritikus nilai respons Kementan terlambat, karena proyeksi El Niño sudah diantisipasi sejak 2025.

Dampak Ekonomi Sosial

Kenaikan ini tambah beban CPI nasional 3,5% YoY, picu kenaikan harga menu warung 10-15%. Petani dapat untung sementara Rp40.000/kg di tingkat ladang, tapi pedagang kecil keluh margin tergerus pembeli sensitif harga.

Solusi Jangka Panjang

Pemerintah janji lepas stok beras dan cabai pemerintah, tapi tanpa green house modern dan stabilisator harga permanen, siklus Rp50.000-Rp80.000/kg berulang tiap musim hujan. Program ketahanan pangan Prabowo harus prioritaskan diversifikasi varietas tahan iklim.

Pantau tren global pangan di CNN. Kembali ke Beranda.